USD/IDR: Rupiah Jauhi Rekor Terlemah ke 17.350, Pasar Menimbang Sinyal De-eskalasi Iran-AS
- Rupiah kembali bergerak di bawah Rp17.400 per Dolar AS, tetapi masih dekat area terlemahnya.
- BI dan pemerintah menyiapkan bantalan stabilisasi, mulai dari intervensi valas hingga Panda Bonds.
- Pasar menimbang sinyal de-eskalasi Iran-AS, harga minyak, dan data tenaga kerja AS menjelang NFP.
Rupiah mulai menunjukkan pemulihan terbatas setelah menyentuh rekor terlemah pada 5 Mei. Namun, tekanan terhadap mata uang Garuda belum benar-benar mereda. Mengacu data real-time pada Kamis, pasangan mata uang USD/IDR naik 66,4 poin atau 0,38% ke Rp17.354 per Dolar AS, setelah bergerak dalam rentang harian Rp17.298-Rp17.371.
Posisi tersebut menunjukkan Rupiah masih berada dekat area terlemahnya. USD/IDR hanya berjarak sekitar 93 poin dari rekor terlemah di Rp17.447, sementara level terendah tahunan berada di Rp16.085. Di sisi kurs acuan, JISDOR Bank Indonesia pada 6 Mei tercatat membaik tipis ke Rp17.405 per Dolar AS dari Rp17.425 pada 5 Mei, menandakan tekanan sempat mereda sebelum kembali diuji permintaan Dolar AS di pasar spot.
Analis Menilai Geopolitik Mulai Memberi Ruang Pemulihan
Dari sisi analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengutip laporan Kontan, menilai penguatan Rupiah hari ini terbantu oleh faktor geopolitik. Pasar merespons positif sinyal kemungkinan kesepakatan damai AS-Iran serta penghentian sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz.
Meski demikian, ruang penguatan Rupiah masih tampak terbatas. Ibrahim memprakirakan Rupiah tetap bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.380-Rp17.420 per Dolar AS. Proyeksi ini menunjukkan pasar belum sepenuhnya meninggalkan posisi defensif, terutama selama risiko minyak, Dolar AS, dan kebijakan The Fed masih membayangi.
BI, Pemerintah, dan APBN Jadi Bantalan Stabilitas
Dari sisi domestik, pasar mencermati langkah stabilisasi yang disiapkan Bank Indonesia dan pemerintah. BI menilai Rupiah masih berada di bawah nilai fundamentalnya, ditopang pertumbuhan ekonomi 5,61%, inflasi terkendali, kredit yang masih tumbuh, serta cadangan devisa yang kuat. Namun, tekanan jangka pendek tetap datang dari harga minyak tinggi, kenaikan yield US Treasury, penguatan Dolar AS, serta kebutuhan valas musiman.
APBN yang dirilis pada 5 Mei juga menjadi faktor yang dicermati pasar karena pelemahan Rupiah dan harga minyak tinggi berpotensi menambah beban subsidi serta kompensasi energi. Hingga 31 Maret 2026, defisit APBN tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93% PDB, sementara subsidi dan kompensasi telah mencapai Rp118,7 triliun. Kondisi ini menunjukkan fiskal masih berperan sebagai bantalan, tetapi ruangnya tetap akan diuji jika tekanan energi dan Rupiah bertahan lama.
Untuk menahan volatilitas, BI menyiapkan intervensi di pasar valas domestik dan offshore, memperkuat inflow melalui SRBI, menjaga likuiditas perbankan, serta memperketat pembelian Dolar AS tanpa underlying hingga US$25.000 atau sekitar Rp434 juta. Pemerintah juga menyiapkan penerbitan Panda Bonds di Tiongkok untuk mendiversifikasi pembiayaan dan mengurangi ketergantungan pada Dolar AS.
Sinyal Damai Iran-AS Tekan Minyak
Sentimen eksternal sedikit membaik setelah nada konflik Iran–AS mulai lebih konstruktif, meski belum menandai resolusi penuh. Presiden AS Donald Trump menyebut perang dengan Iran bisa “segera berakhir”, sementara Teheran masih meninjau proposal Washington. Namun, rancangan awal kesepakatan masih menyisakan isu besar, terutama tuntutan AS agar Iran membatasi program nuklirnya dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Reuters melaporkan kedua pihak mulai mendekati memorandum singkat untuk mengakhiri konflik secara formal, sebelum masuk ke negosiasi lanjutan mengenai sanksi, keamanan pelayaran Hormuz, dan batasan nuklir Iran.
Sinyal de-eskalasi sempat menekan harga minyak tajam karena pasar menakar peluang pemulihan pasokan melalui Hormuz. Brent ditutup turun 7,83% ke US$101,27 per barel pada Rabu setelah sempat jatuh di bawah US$100, sementara WTI melemah 7,03% ke US$95,08. Namun, pada perdagangan Kamis, harga minyak mulai rebound tipis seiring investor menilai kesepakatan Iran-AS masih belum pasti. Menurut data Bloomerg terbaru, kontrak berjangka Brent berada di US$101,92, sementara WTI di US$95,67.
Data AS Jadi Ujian Berikutnya
Dari AS, data ADP April menunjukkan penyerapan tenaga kerja swasta bertambah 109 ribu, lebih tinggi dari konsensus 99 ribu dan naik dari 61 ribu pada bulan sebelumnya. Angka ini mengindikasikan pasar tenaga kerja belum melemah signifikan, sehingga dapat menahan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.
Pasar kini menunggu Klaim Tunjangan Pengangguran Awal, Laporan PHK Challenger, Biaya Unit Buruh, Produktivitas non-Pertanian, serta pidato pejabat The Fed seperti Neel Kashkari, Beth Hammack, dan John Williams. Menjelang NFP Jumat, kombinasi data tenaga kerja yang kuat dan inflasi yang masih membandel berpotensi menjaga Dolar AS tetap menarik, sehingga ruang pemulihan Rupiah masih perlu diuji.
Indikator Ekonomi
Laporan PHK Challenger (Thn/Thn)
PHK Challenger, yang dirilis oleh Challenger, Grey & Christmas setiap bulan, memberikan informasi tentang jumlah PHK perusahaan yang diumumkan menurut industri dan wilayah. Laporan tersebut merupakan indikator yang digunakan oleh investor untuk menentukan kekuatan pasar tenaga kerja. Biasanya, pembacaan yang tinggi dianggap negatif (atau bearish) bagi Dolar AS (USD), sedangkan pembacaan yang rendah dianggap positif (atau bullish).
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Kam Mei 07, 2026 11.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: -
Sebelumnya: 60.62Rb
Sumber: Challenger, Grey & Christmas, Inc.