Rupiah Tertekan ke Rp17.434, Pasar Menimbang PDB Solid dan Risiko Hormuz jelang PMI Jasa ISM AS

  • Rupiah melemah 0,48% ke Rp17.434 per Dolar AS pada akhir sesi Asia, kembali bergerak di area terlemah.
  • PDB Indonesia kuartal I tumbuh 5,61% YoY, melampaui konsensus, tetapi secara kuartalan masih terkontraksi.
  • Dolar AS tetap ditopang data ekonomi yang kuat dan sikap hati-hati The Fed, sementara risiko perang AS-Iran menjaga tekanan eksternal tetap tinggi.

Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa. Mata uang Garuda melemah 82,5 poin atau 0,48% ke Rp17.434 per Dolar AS pada akhir sesi Asia, setelah bergerak dalam rentang Rp17.363-Rp17.435. Pergerakan ini membawa Rupiah kembali ke area terlemah, mencerminkan tekanan yang masih kuat di pasar spot.

Tekanan tersebut terlihat lebih berat dibandingkan kurs acuan Bank Indonesia terbaru. JISDOR 4 Mei tercatat di Rp17.368 per Dolar AS, sedikit lebih kuat dari posisi 30 April di Rp17.378. Selisih antara pasar spot dan kurs acuan ini menunjukkan tekanan terhadap Rupiah kembali meningkat pada perdagangan berjalan, meski data JISDOR terakhir masih memberi sinyal stabilisasi terbatas.

PDB Tahunan Masih Solid, tetapi Momentum Kuartalan Melemah

Dari sisi domestik, data PDB Indonesia kuartal I memberi bantalan bagi sentimen, meski belum cukup kuat untuk mengangkat Rupiah. Ekonomi tumbuh 5,61% YoY, lebih tinggi dari periode sebelumnya 5,39% dan melampaui konsensus pasar 5,3%. Namun secara kuartalan, PDB terkontraksi 0,77% QoQ, berbalik dari pertumbuhan 0,86% pada kuartal sebelumnya, meski penurunannya masih lebih ringan dibandingkan prakiraan pasar -0,97%.

Secara komponen, tekanan terutama berasal dari koreksi belanja pemerintah, melemahnya investasi tetap, serta penurunan ekspor dan impor. Kondisi ini muncul di tengah ketegangan Timur Tengah yang menjaga harga minyak tetap tinggi dan ikut menekan Rupiah. Konsumsi rumah tangga juga kehilangan laju, meski masih terbantu permintaan musiman dan bonus gaji.

Dari sisi sektoral, tekanan terlihat pada pertambangan, manufaktur, konstruksi, dan transportasi. Sementara itu, perdagangan, jasa keuangan, serta administrasi publik tumbuh lebih lambat. Penopang terbatas datang dari pemulihan sektor pertanian dan perbaikan akomodasi.

Data AS dan Komentar The Fed Menahan Ruang Pemulihan

Dari Amerika Serikat, data Pesanan Pabrik Maret naik 1,5%, melampaui konsensus 0,5% dan angka sebelumnya 0,3% setelah revisi. Data ini memperkuat gambaran bahwa ekonomi AS masih memiliki daya tahan, sehingga Dolar AS tetap mendapat dukungan.

Sementara itu, Presiden The Fed New York John Williams menilai kebijakan moneter AS masih berada pada posisi yang tepat di tengah ketidakpastian. Ia mengatakan dampak perang Iran terhadap ekonomi AS belum bisa dipastikan, sementara risiko terhadap mandat ganda The Fed meningkat. Williams juga memprakirakan inflasi berada di sekitar 3% tahun ini sebelum kembali ke target 2% pada 2027, dengan tarif dan energi menjadi pendorong utama.

Bagi Rupiah, kombinasi data AS yang lebih kuat dan sikap The Fed yang tetap hati-hati dapat menjaga daya tarik Dolar AS. Selama ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama belum mereda, ruang pemulihan Rupiah berpotensi tetap terbatas.

Risiko Hormuz Tetap Jadi Beban Eksternal

Dari sisi geopolitik, ketegangan AS-Iran kembali meningkat setelah AS meluncurkan Project Freedom untuk membuka Selat Hormuz, sementara Iran tetap menunjukkan klaim kontrol atas jalur tersebut. Situasi ini menjaga premi risiko energi tetap tinggi dan menambah tekanan eksternal bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.

Fokus pasar malam ini tertuju pada rangkaian data AS, terutama PMI Jasa ISM April yang diprakirakan turun ke 53,7 dari 54, serta lowongan kerja JOLTS Maret yang diproyeksikan naik tipis ke 6,83 juta dari 6,82 juta. Investor juga akan mencermati komponen harga, ketenagakerjaan, dan pesanan baru sektor jasa, bersama rilis PMI Gabungan S&P Global serta pidato pejabat The Fed, Bowman dan Barr, untuk menilai ulang arah Dolar AS berikutnya.

Indikator Ekonomi

PMI Jasa ISM

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa dari Institute for Supply Management (ISM), yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor jasa AS, yang merupakan sebagian besar perekonomian. Indikator ini diperoleh dari survei terhadap eksekutif pasokan di seluruh Amerika berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan di organisasi masing-masing. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa perekonomian jasa secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Angka di bawah 50 menandakan bahwa aktivitas sektor jasa secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Sel Mei 05, 2026 14.00

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 53.7

Sebelumnya: 54

Sumber: Institute for Supply Management

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa Institute for Supply Management (ISM) mengungkapkan kondisi sektor jasa AS saat ini, yang secara historis menjadi kontributor PDB yang besar. Data di atas 50 menunjukkan ekspansi aktivitas ekonomi sektor jasa. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan biasanya membantu USD mengumpulkan kekuatan melawan mata uang utama lainnya. Selain PMI utama, data Indeks Ketenagakerjaan dan Indeks Harga yang Dibayar juga diawasi ketat oleh investor karena memberikan wawasan yang berguna mengenai keadaan pasar tenaga kerja dan inflasi.



USD/JPY: Intervensi dan IHK Inti yang lemah membatasi support Yen – Commerzbank

Volkmar Baur dari Commerzbank melaporkan bahwa otoritas Jepang tampaknya melakukan intervensi di sekitar pasangan mata uang USD/JPY 157 setelah pasangan mata uang ini sempat menyentuh 160,72. Data inflasi Tokyo menunjukkan kenaikan inflasi umum yang didorong sepenuhnya oleh energi, sementara inflasi inti telah turun ke level terendah satu tahun
Đọc thêm Previous

Emas: Imbal hasil yang meningkat terus memberikan tekanan pada harga – ING

Analis ING Warren Patterson dan Ewa Manthey mengatakan Emas telah melanjutkan penurunannya, diperdagangkan di dekat $4.500/oz karena imbal hasil Treasury AS yang lebih tinggi dan Dolar AS (USD) yang lebih kuat menekan aset yang tidak berimbal hasil.
Đọc thêm Next